Pelajaran dari 2016 untuk 2017: Waktunya untuk Memperhatikan Ancaman Keamanan Data Kesehatan

 
Ilustrasi Health Information Security 2016 to 2017

Laporan dari Protenus menemukan bahwa sebuah organisasi pelayanan kesehatan rata-rata membutuhkan waktu sekitar 607 hari untuk menemukan penerobos yang masuk ke dalam database kesehatan.

Sepanjang 2016, pesan dari beberapa pakar cybersecurity telah dikomuniksikan secara konsisten dan kepentingannya cukup mendesak, dimana para pemimpin di organisasi pelayanan kesehatan perlu untuk memprioritaskan keamanan informasi dan teknologi mereka, karena di Negeri tempat Donald Trump dijadikan presiden ini, para pemimpin tersebut belum melakukan hal yang cukup untuk melindungi data-data pasien.

Berdasarkan laporan terbaru “Breach Barometer” dari Protenus, vendor cybersecurity pelayanan kesehatan yang berbasis di Baltimore, yang berkolaborasi dengan suatu situs penyedia berita penerobosan data, industri pelayanan kesehatan telah tergoda dengan penerobosan yang melibatkan data kesehatan atau data pasien di tahun 2016, dimana insidensi peretasan dan ransomware menjadi pengingat masyarakat akan masih rentannya proteksi terhadap informasi kesehatan (protected health information / PHI).

Berdasarkan analisis Protenus dan situs tersebut, ada 450 insiden penerobosan data yang dilaporkan ke 

Membangun Framework untuk Mengajar Informatika Keperawatan secara Internasional

Ilustrasi Nursing Informatics

Pengantaran pelayanan kesehatan meningkat seiring berkembangnya informasi teknologi dari waktu ke waktu untuk menyediakan informasi di saat yang tepat dan membuat keputusan yang efektif. Menurut Inge Madsen dari Centre of Clinical Guideline dari Department of Health and Technology University of Aalborg, Denmark, pada tahun 2003, sebuah survey yang mensurvey 266 sarjana muda dari pendidikan keperawatan di Amerika Serikat, menemukan bahwa hampir dari setengah pendidikan keperawatan tersebut hanya mengajarkan ilmu komputer dasar seperti mengetik dan mengirim email, ketika kurang dari sepertiga dari program-program keperawatan di Negeri Paman Sam tersebut mengalamatkan kompetensi utama dari keperawatan seperti standarisasi teknologi dan aplikasi telehealth.

Workshop yang dilakukan oleh Inge dan peneliti lainnya menemukan bahwa survey yang mereka lakukan memberikan gambaran dimana kurang dari sepertiga program fakultas keperawatan memiliki kompetensi yang

Pelatihan untuk Pelatih NusaHealth

 
Foto Peserta Pelatihan untuk Pelatih  NusaHealth yang diselenggarakan di Ruang Multimedia Lantai 3 Gedung Rektorat Universitas Gadjah Mada pada Jumat, 16 Desember 2016 oleh SixCap Singapore

YOGYAKARTA Pelatihan untuk pelatih NusaHealth telah dilaksanakan di Ruang Multimedia Lantai 3 Gedung Rektorat Universitas Gadjah Mada pada Jumat 16 Desember 2016 yang lalu. Pelatihan ini dilaksanakan atas kerja sama Universitas Gadjah Mada (UGM) dengan Six Capital (SixCap) Singapore.

Pelatihan ini dihadiri oleh pihak SixCap Cliff Lee, Managing Director NusaHealth; Lisa Nguyen, Chief Operating Officer NusaHealth; Nadia Goei, Assistant Vice President, Special Projects NusaHealth; dan Anindya Kusuma Putri, Humanitarian Ambassador dari SixCapital sebagai pelatih, serta peserta dari lainnya dari internal UGM seperti Surahyo Sumarsono, B.Sc, M.Eng.Sc dan dr. Lutfan Lazuardi, M.Kes., Ph.D dari pengajar di departemen Sistem Informasi Manajemen Kesehatan (SIMKES), I Nyoman Aji Payuse dari Fakultas Hukum, beberapa asisten peneliti serta mahasiswa-mahasiswi dari jenjang sarjana dan pasca sarjana.

Pelatihan ini dimulai oleh Pak Rahyo, panggilan akrab Surahyo, dengan memberikan sesi pembukaan serta gambaran akan pelatihan yang akan dilakukan selama kurang lebih 3 jam kedepan. Sesi perkenalan pun dimulai dari Cliff, berurutan hingga ke peserta terakhir.

Para peserta diberikan gambaran awal oleh Lisa terkait visi dan misi dari NusaHealth, dimana tingginya kasus penyakit tidak menular seperti

Pertukaran Data Imunisasi menggunakan Rekam Medis Elektronik

Ilustrasi Imunisasi Anak dan Rekam Medis Elektronik. Sumber: Google.com

Era dimana informasi menjadi hal yang essential di kalangan masyarakat, mendorong dunia kesehatan untuk mengikuti derasnya arus perubahan tersebut. Seiring berjalannya waktu pula, intergrasi antara teknologi informasi dengan kesehatan, menciptakan daya tarik peneliti untuk memanfaatkan momentum tersebut agar mendapatkan lebih banyak lagi pengetahuan untuk dapat meningkatkan kesehatan masyarakat, salah satunya seperti penelitian yang dilakukan oleh sekelompok peneliti dari New York untuk mengetahui manfaat dari pertukaran data terhadap imunisasi pada anak-anak dan remaja di kota tempat pahlawan fiksi Spider-Man beraksi.

Penelitian berjudul Immunization Data Exchange with Electronic Health Records dilakukan untuk

Informatika Penelitian Klinis untuk Big Data dan Precision Medicine

 
Ilustrasi Logo Informatika Penelitian Klinis

Informatika Penelitian Klinis (CRI) adalah istilah baru untuk cabang ilmu dari informatika biomedis yang fokus kepada dukungan informatika untuk menghasilkan bukti medis, telah berkembang lingkup serta pentingnya dalam mendukung agenda-agenda klinis dan penerjamahan ilmu pengetahuan ilmiah yang kian meluas.

Tujuan dari Weng dan Kahn melakukan penelitian ini adalah untuk