REKAMAN WEBINAR

Sekilas Penerapan Bridging Simpus dengan PCare BPJS

Ilustrasi Puskesmas dan Simpus Bridging

YOGYAKARTA  Bridging, proses penjembatanan antar sistem dan database melalui web service, sedang digalakkan oleh Badan Penyelengara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan untuk meningkatkan pelayanan kesehatan di tingkat Puskesmas. Sistem informasi Puskesmas (Simpus) di-bridging-kan dengan Primary Care (PCare) BPJS Kesehatan, sistem informasi pelayanan pasien BPJS yang berbasis komputer, untuk memudahkan pasien dalam melakukan pendaftaran dan memangkas waktu tunggu antrian pasien untuk mendapatakan pelayanan kesehatan.

Implementasi bridging PCare dengan Simpus sendiri sudah dilakukan dibanyak tempat di Indonesia. Dinas Kesehatan (Dinkes) Jombang, telah melakukan Memorandum of Understanding (MoU) dengan BPJS Kesehatan pada bulan Januari 2016. Hal senada juga dilakukan oleh puskesmas-puskesmas di Purworejo dan Bogor. Di daerah Riau, Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Indrahilir telah meluncurkan sistem ini pada bulan Maret 2016. Puskesmas Makrayu Palembang, yang merupakan salah satu dari 11 Puskesmas percontohan, juga telah mengimplementasikan bridging sistem antara Simpus dengan PCare BPJS Kesehatan pada September 2016 yang lalu.

Beberapa riset telah dilakukan oleh D3 Rekam Medik Sekolah Vokasi Universitas Gadjah Mada untuk melihat implementasi dari sistem yang diwajibkan oleh BPJS Kesehatan ini.

Pada riset yang dilakukan Inayahima yang dibimbing oleh Nuryati S.Far., MPH., di salah satu Puskesmas di Yogyakarta yang sejak November 2015 yang lalu telah menerapkan sistem bridging Simpus dengan PCare BPJS Kesehatan, Puskesmas Umbulharjo I, menemukan bahwa dalam pelaksanaan sistem ini, petugas peng-entry data dapat merasakan manfaat akan efisiensi serta efektifitas pelayanan secara langsung. Petugas hanya cukup melakukan entry data ke satu sistem, yang otomatis akan ter-input ke sistem Simpus dan sistem PCare BPJS Kesehatan dalam waktu bersamaan.

Riset yang dilakukan dengan metode deskriptif pendekatan kualitatif ini juga mengungkapkan sisi lain dari implementasi sistem ini. Beberapa hal yang menjadi kendala dalam sistem bridging meliputi petugas yang tidak semuanya dapat mengoperasikan komputer; daya listrik yang kurang terpenuhi, koneksi internet yang belum stabil; pengubahan data pasien dalam sistem, spesifikasi kode dan terminologi dalam medis; belum adanya kebijakan tertulis tentang penerapan sistem bridging; serta belum adanya standar operasional prosedur dalam peng-entry-an data ke Simpus pasca bridging.

Riset ini juga menyimpulkan bahwa kendala terbesar dalam eksekusi bridging adalah terjadinya ketidakstabilan jaringan pada web service di PCare BPJS Kesehatan untuk diakses, yang menyebabkan data yang di-bridging tidak dapat langsung masuk ke PCare BPJS Kesehatan atau offline mode.

Studi ini menyarankan para developer untuk mengatasi masalah terbesar tersebut dengan menciptakan sebuah aplikasi yang dapat menanggulangi tertundanya data yang masuk ke dalam PCare BPJS Kesehatan ketika dalam keadaan offline.

Keuntungan maupun kendala yang timbul dari bridging Simpus dengan PCare BPJS Kesehatan ini juga diungkapkan pada riset dengan metode serupa yang dilakukan oleh Isnaini di Puskesmas Tegalrejo Kota Yogyakarta. Puskesmas yang menerima hampir 200 pasien setiap harinya ini, dapat menanggulangi adanya double entry berupa data sosial, data klinis, dan data jaminan kesehatan yang di-input oleh petugas pendaftaran, dengan menggunakan sistem bridging.

Meskipun begitu, kendala berupa kurangnya pemahaman petugas akan pengoperasian komputer, serta kendala teknis akan  jaringan komputer maupun bandwidth yang kurang, menjadi sorotan utama dalam riset ini.

Peneliti memberikan saran agar pihak Puskesmas melakukan pelatihan akan pengoperasian komputer yang sudah ter-bridging kepada petugas yang bertanggung jawab terhadap peng-entry-an data, memperbaiki jaringan komputer, serta meningkatkan bandwidth untuk dapat meningkatkan proses pelayanan kesehatan, terutama dengan memotong waktu peng-entry-an data.

Evaluasi maupun penelitian terkait bridging Simpus dengan PCare BPJS Kesehatan ini cenderung masih sedikit, oleh karena itu, para peneliti diharapkan dapat melakukan lebih banyak lagi riset, agar dapat diketahui sejauh mana implementasi dari sistem yang digalakkan oleh BPJS Kesehatan ini, serta dapat memberikan masukan yang positif, agar pelayanan kesehatan di tingkat Puskesmas dapat menjadi lebih baik.

Artikel ditulis oleh Yudha E. Saputra, S.Farm, Apt.

Trackback from your site.

Leave a comment