REKAMAN WEBINAR

Pedoman Telemedicine Indonesia untuk Memberikan Pelayanan Kesehatan Jarak Jauh yang Lebih Baik

Ilustrasi Kesehatan Dijital. Sumber: instagram.com

YOGYAKARTA Telemedicine, layanan kesehatan yang dilakukan dari jarak jauh dengan mentransfer data medik elektronik dari satu lokasi ke lokasi lainnya, pertama kali menjadi ilustrasi lelucon pada sampul majalah acara radio pada tahun 1924 “The Radio Doctor-Maybe!”, yang digambarkan dengan seorang dokter yang menunggu pasiennya melalui video call. Beberapa tahun kemudian, para tenaga medis terinspirasi dengan teknik transmisi foto yang dikembangkan oleh militer Eropa pada Perang Dunia II, untuk membantu mentransmisikan keadaan pasien dari klinik mereka ke rumah sakit yang berada di tempat lain.  

Praktik kesehatan dengan menggunakan audio, visual, dan data ini, juga sudah membantu seorang ahli radiologi di Pennsylvania sekitar tahun 1940 untuk mengirimkan hasil pemeriksaannya kepada kerabatnya yang berada di kota yang berbeda. Hal ini pula yang memacu ahli radiologi di Kanada untuk mengembangkan teknologi telemedicine yang ada di sekitar Montreal, ke arah yang lebih spesifik untuk radiologi, yaitu teleradiologi.

90 tahun kemudian, pelayanan kesehatan berbasis tatap muka antar layar kaca yang dahulu hanya sebatas gurauan ini, telah menjadi hal yang lumrah semenjak video call merebak luas di masyarakat.  

Ilustrasi telemedicine pada majalah radio berita pada tahun 1924.
Sumber: kbia.org

Ilustrasi Telemedicine pada majalah radio berita pada tahun 1924. Sumber: kbia.org

Di Negara berkembang sendiri, pada tahun 2007, Mongolia sudah menggunakan telemedicine untuk mengurangi kematian bayi dan ibu hamil dengan menjembatani pusat pelayanan kesehatan di kota dengan posko kesehatan yang ada di daerah terpencil. Di Indonesia, Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) R Syamsudin SH di Kota Sukabumi, menjadi rumah sakit pertama yang menerapkan telemedicine berbasis mobile pada tahun 2005, untuk membantu mengatasi minimnya jangkauan pelayanan kesehatan di wilayah yang luas secara geografis.

Akademisi dari Minat Sistem Informasi Manajemen Kesehatan Prodi S2 Ilmu Kesehatan Masyarakat Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada, Surahyo Sumarsono, B.Eng., M.Eng.Sc., mengungkapkan bahwa berkembanganya teknologi telemedicine di Indonesia, menjadi perhatian Kementrian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes) untuk mengembangkan roadmap serta pedoman untuk penerapan telemedicine yang lebih baik.

Pakar dibidang eHealth yang masuk ke dalam salah satu Tim Teknis Kementrian Kesehatan (Kemenkes) untuk pembuatan Pedoman Telemedicine Nasional ini juga menjelaskan bahwa tahap awal pengembangan program telemedicine untuk saat ini  sudah selesai dan draft-nya akan digunakan untuk acuan 5 tahun kedepan. Saat ini, finishing pedoman tersebut sedang dalam tahap pengerjaan.

Pasca Pembahasan Pedoman untuk Telemedicine di Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada

Pengajar yang akrab disapa dengan Pak Rahyo ini juga menuturkan ada beberapa pilot project yang digunakan untuk menguji seberapa jauh masyarakat dapat menerima telemedicine. Evaluasinya pun juga sudah dilakukan. “Dulu sejak 2014, sebenarnya sudah ada pilot project-nya, tapi panduannya belum ada. Kalau untuk (pedoman) yang lebih luas lagi, kita sudah membuat strategi eHealth nasional.”

Minimnya jumlah sumber referensi untuk pengembangan pedoman ini, khususnya sumber referensi yang berasal dari Indonesia dibandingkan negara berkembang lainnya, menjadi kendala yang cukup menjadi perhatian Pak Rahyo.

“Kalau kita mencari penelitian telemedicine di Indonesia, jumlahnya masing sangat kurang sekali dibandingkan negara-negara berkembang lainnya. Padahal dengan jumlah penduduk yang sangat banyak serta kompleksitas sistem yang begitu luas, sangat disayangkan apabila penelitian di ranah telemedicine masih terbilang rendah di Indonesia.” ungkap Pak Rahyo.

Padahal disisi lain, dosen yang sedang mengambil Ph.D di University of Groningen ini juga mengungkapkan bahwa banyak peneliti dari luar tanah air yang tertarik dengan perkembangan telemedicine.

Teleradiologi, salah satu cabang dari telemedicine, menjadi daya tarik para peneliti untuk meneliti lebih jauh perkembangan mediator untuk mengirimkan gambar hasil pemerikasaan lab radiologi tersebut.

“Meskipun masih awal, namun untuk di negara berkembang seperti Indonesia sendiri pun, masih banyak tantangan dan kendala, serta isu-isu yang bisa (di-cover)maupun belum bisa ditangani. WHO dan Negara-negara berkembang lainnya tertarik sekali dengan hal-hal tersebut” jelas peneliti yang sedang melakukan riset dengan topik telemedicine ini.

Mengenai konten dari pedoman telemedicine ini sendiri, sebagian besar masih berupa arahan dalam bentuk kebijakan. “Saat ini sentuhan teknisnya sedikit, lebih ke policy dan strategy, namun kedepan akan lebih banyak ke bagian teknisnya.” tambah Pak Rahyo.

Kedepan, pedoman telemedicine yang sedang dikerjakan oleh Kemenkes ini akan menjadi acuan untuk pembuatan Peraturan Mentri Kesehatan (PerMenKes), sebagai landasan untuk mengembangkan telemedicine yang lebih luas di Indonesia.

Reportase ditulis oleh Yudha E. Saputra, S.Farm, Apt.

Trackback from your site.

Leave a comment