REKAMAN WEBINAR

mHealth dan Sosial Media untuk Pencegah dan Kontrol Pasien Kanker

Ilustrasi Social Media for Cancer

Penyakit kanker diprediksi semakin memburuk dari waktu ke waktu, dimana diperkirakan akan terjadi peningkatan sebesar 80% di negara-negara low income dan 70% di negara – negara low middle income pada tahun 2030. Tingginya angka persentase tersebut seolah-olah menyamai dengan meningkatnya jumlah pengguna mobile phone di negara-negara berkembang. Meningkatnya penggunaan mobile device ini, dipergunakan oleh pengguna untuk melakukan kegiatan yang mengarah pada perubahan kesehatan, seperti (di masyarakat) untuk meningkatkan kewaspadaan, memonitoring dan memfollow up pasien (bagi kalangan medis), serta (bagi pasien) digunakan untuk mengontrol penyakit, yang salah satunya adalah penyakit kanker.

Pengguna mobile phone yang lambat laun berubah menggunakan smartphone, mulai terbiasa dengan istilah sosial media, dimana diantara penggunanya adalah penyedia layanan kesehatan dan juga pasien mereka. Perkembangan teknologi sosial media juga telah merubah wujud dari yang hanya untuk melakukan pembaharuan status menjadi pencegahan dan kontrol pada kanker.

Sebuah studi yang dilakukan oleh  D. Peter O’Leary dan beberapa peneliti lainnya dari Cork Breast Research Centre Cork University Hospital Irlandia, telah dilakukan untuk memberikan gambaran terkait cepatnya evolusi di dunia digital dalam memberikan kontribusi pada pencegahan dan kontrol kanker.

Review yang dilakukan oleh Peter dan tim penelitinya ini merangkum 7 tema kontribusi dari pengaruh perkembangan dunia digital terhadap pencegahan dan kontrol dari penyakit kanker. Antara lain:

  1. Jejaring sosial para ahli kanker

Sosial media menjadi tempat untuk para dokter dan klinisi di bidang kesehatan untuk membangun jaringan dan berbagi ide kepada teman sejawat mereka. Contoh dari media sosial yang biasa mereka gunakan untuk berbagi informasi dalam skala kecil (maksimal 140 karakter per tweet ) adalah Twitter, sedangkan untuk berbagi hal yang skalanya lebih besar (seperti membahas jurnal) dengan komentar yang panjang, para profesional di rumah sakit ini biasa menggunakan website ResearchGate.

  1. Sosial media dan literatur digital untuk kanker

Memberikan bukti berbasis medis sangatlah esensial untuk dilampirkan ketika memberikan terapi kepada pasien, dan tak jarang para petugas kesehatan menggunakan media seperti Twitter untuk mencari update dari akun jurnal secara real time. Para follower dari professional-profesional itu pun tak jarang me-retweet postingan dari akun yang mereka follow, sehingga terkadang perdebatan ilmiah terjadi di timeline.

  1. Teknologi tingkat tinggi untuk menyembuhkan kanker

Sosial media dan website bisa saja disebut dengan teknologi tingkat tinggi, pasalnya kelompok riset dari Metastatic Breast Cancer Project pernah melaporkan bahwa mereka mampu merekrut 2000 pasien di setiap Negara bagian di Amerika Serikat selama tujuh bulan menggunakan dua jenis teknologi ini. Para peneliti dari Memorial Sloan Kettering Cancer Centre juga percaya akan adanya intervensi teknologi tingkat tinggi terhadap penyakit kanker, dengan mengembangkan cognitive computing app untuk membantu mengambil keputusan terhadap

  1. Penyimpanan dan analisis Big Data pada kanker

Big data adalah istilah untuk menggambarkan analisis komputasional, dimana bila istilahnya diterjemahkan untuk dunia kesehatan, dalam skala besar data-data dalam jumlah tersebut dapat menunjukan pola, tren, dan hubungan.

  1. Telemedicine untuk kanker

Telemdicine dapat menjadi solusi untuk memberikan pelayanan berupa konsultasi meskipun terbatas geografis dan sosiekonomi. Salah satu cabang dari telemedicine, teledermoscopy, pernah digunakan untuk mendeteksi melanoma pada pasien, dimana lesi yang mencurigakan di ambil gambarnya lalu dikirim langsung ke dermatologis yang berkompeten untuk kasus tersebut, untuk mendapatkan masukan yang lebih baik dalam melakukan tindakan medis.

  1. mHealth untuk kanker

Penggunaan pesan sebagai pengingat akan gaya hidup sehat maupun memberikan edukasi kesehatan, adalah salah dua fungsi dari mobile health. Screening untuk pasien lansia (yang berumur diatas 50 tahun) yang mengidap colorectal cancer melalui pesan yang memotivasi pasien-pasien tersebut, dinilai menjadi intervensi yang disukai oleh populasi yang memiliki umur lebih tua ini.

  1. Wearable technology untuk kanker

Wearable technology merupakan ranah yang berkembang dengan cepat di era digitalisasi ini, yang dimana salah satu fungsinya dapat merekam parameter lingkungan di seputar pasien. Kemajuan teknologi ini juga dapat membantu pasien dalam mengatasi rasa sakit ketika chemotherapy induced peripheral neuropathy dilakukan, dimana alat ini bertindak sebagai balance sensor.

Dari review yang telah dipaparkan oleh Peter dan tim penelitinya ini, peneliti meyakini bahwa digital based projects yang mengarah pada kontrol dan pencegahan pasien, sedang dikerjakan oleh banyak pihak. Salah satu contoh dari project yang dimaksud oleh Peter dan timnya adalah pengembangan scalpel bedah yang dapat membedakan antara jaringan malignant dengan jarigan normal dalam waktu yang singkat.

Semoga dengan membaca ringkasan singkat dari jurnal yang berjudul integration of advances in social media and mHealth technology are pivotal to successful cancer prevention and control, pembaca dapat mendapatkan gambaran akan pengembangan teknologi digital untuk meningkatkan pelayanan kesehatan, khususnya di ranah pencegahan dan pengontrolan penyakit kanker.

Semoga juga dengan contoh-contoh kontribusi dari bidang digital untuk mengintervensi kanker ini, pembaca dapat tergerak untuk melakukan inovasi untuk membantu mengatasi permasalahan kanker, khususnya yang ada di Indonesia.

Semoga bermanfaat 🙂

Link jurnal: Integration of advances in social media and mHealth technology are pivotal to successful cancer prevention and control

Review ditulis oleh Yudha E. Saputra, S.Farm, Apt.

Trackback from your site.

Leave a comment