REKAMAN WEBINAR

Archive for February, 2017

Rumah Kita akan menjadi Rumah Sakit di Masa Depan?

Ilustrasi Hospital is Home
 

Kebanyakan orang membayangkan peralatan serta device yang sangat canggih ketika mereka bertanya tentang rumah sakit di masa depan. Namun, bagaimana bila sebagian besar pelayanan kesehatan dapat diberikan di rumah kita dengan menggunakan wearable dan device-device yang berbeda yang berada di kamar mandi maupun tempat tidur kita, dan dapat mengukur apa yang seharus diukur untuk menunjang kesehatan kita?

Bertalan Meskó, MD, Ph.D, mencoba merangkum beberapa kemungkinan pelayanan kesehatan yang dapat diberikan di rumah kita, sehingga rumah kita dapat diasumsikan sebagai rumah sakit di masa depan, dengan melihat device apa saja yang dibutuhkan.

10 hal yang dicontohkan oleh Bertalan Meskó, MD, Ph.D meliputi:

Melihat Pelayanan Kesehatan Hari Ini dari Tahun 2050

Bertalan Mesko, MD, Ph.D dari video Looking Back At Today’s Healthcare from The Future in 2050
 

Apakah yang dapat kita lihat dari pelayanan kesehatan di tahun 2050? Pertanyaan ini mungkin terdengar kurang begitu relevan, karena 2050 masih sangatlah lama, namun, Bertalan Meskó, MD, Ph.D mendapatkan banyak pertanyaan terkait masa depan dari kedokteran dan pelayanan kesehatan, apa yang akan datang, dan seperti apa pelayanan radiologi, genomic, serta sensor kesehatan di masa depan.

Dalam video yang berdurasi 3:13 menit ini, pemilik blog The Medical Futurist ini mencoba membuat prediksi yang tajam, dengan membayangkan bahwa saat ini kita, masyarakat, sedang berada di tahun 2050 dan melihat elemen-elemen yang memainkan peran penting pada pelayanan kesehatan di tahun 2010.

Berikut 16 hal yang bisa kita lihat di tahun 2010 dari tahun 2050 menurut Dr. Bertalan Meskó, MD, Ph.D, antara lain:

Cybersecurity Medical Device dari sisi FDA

Ilustrasi Cybersecurity FDA

Device kedokteran, seperti sistem komputer, sangat rentan terserang penerobos kemananan, yang berpotensi berdampak pada kemanan dan keefektifan dari device tersebut. Kerentanan ini pun meningkat seiring dengan meningkatnya jumlah device kedokteran yang terkoneksi dengan internet, jaringan rumah sakit, dan device-device kedokteran lainnya.

Seluruh device kedokteran membawa beberapa resiko. Food and Drug Admission (FDA), badan pengawas obat dan makanan dari Amerika Serikat, mengizinkan device-device tersebut untuk dapat dipasarkan dengan syarat

Pelayanan Terpadu Pasien Nyeri menggunakan Kercerdasan Buatan

Ilustrasi AI for Pain

Cognitive Behavioral Therapy (CBT) adalah salah satu dari metode yang paling efektif untuk mengobati low back pain kronis. Meskipun begitu, hanya setengah dari pasien-pasien di Department of Veterans Affairs (VA) yang memiliki akses kepada terapis CBT yang terlatih, dan kemampuan finansial untuk memperluas jangkauan dari pasien yang dapat mendapatkan pelayanan dari terapis-terapis tersebut dirasa cukup tinggi. Secara umum, CBT adalah proses terapi mingguan yang memakan waktu 10 jam untuk setiap sesinya. Dari terapi ini, beberapa pasien langsung merasakan peningkatan kesehatan dalam beberapa minggu awal terapi, meskipun masih banyak yang perlu mendapatkan perawatan yang lebih intensif.

Penelitian yang dilakukan oleh John D. Piette dari Department of Health Behaviour Education University of Michigan School of Public Health dan beberapa peneliti lainnya mencoba menerapkan prinsip “reinforcement learning”, salah satu ranah dari kecerdasan buatan (artificial intelligence / AI) untuk mengembangkan layanan pengelolaan nyeri CBT terpersonalisasi berbasis bukti yang

Studi Kelayakan Aplikasi Asisten Kesehatan Pribadi untuk Pasien Stroke

Ilustrasi Stroke Patient Personal Health Application

Penemuan-penemuan baru telah berkontribusi pada penurunan angka kematian nasional di Amerika Serikat akibat stroke akut. Meskipun begitu, pelayanan pasca perawatan di rumah sakit dan angka pendaftaran kembali untuk pasien yang sama tetap menjadi kendala yang tak terbantahkan.  Aplikasi asisten kesehatan pribadi (personal health assistant / PHA) dapat menjadi solusi untuk mengelola pelayanan pasca perawatan di rumah sakit. Penelitian yang dilakukan oleh Jason Siegel dari Department of Neurology Mayo Clinic dan beberapa peneliti lainnya memberikan hipotesis bahwa adanya PHA memiliki korelasi dengan tingginya tingkat kepuasan pada pasien yang menerima perawatan pasca stroke di rumah sakit dan mencegah kembalinya pasien untuk mendaftar di rumah sakit lagi.

Penelitian ini dilakukan dengan menawarkan aplikasi PHA melalui smartphone kepada pasien dengan stroke