REKAMAN WEBINAR

Studi Kelayakan Aplikasi Asisten Kesehatan Pribadi untuk Pasien Stroke

Ilustrasi Stroke Patient Personal Health Application

Penemuan-penemuan baru telah berkontribusi pada penurunan angka kematian nasional di Amerika Serikat akibat stroke akut. Meskipun begitu, pelayanan pasca perawatan di rumah sakit dan angka pendaftaran kembali untuk pasien yang sama tetap menjadi kendala yang tak terbantahkan.  Aplikasi asisten kesehatan pribadi (personal health assistant / PHA) dapat menjadi solusi untuk mengelola pelayanan pasca perawatan di rumah sakit. Penelitian yang dilakukan oleh Jason Siegel dari Department of Neurology Mayo Clinic dan beberapa peneliti lainnya memberikan hipotesis bahwa adanya PHA memiliki korelasi dengan tingginya tingkat kepuasan pada pasien yang menerima perawatan pasca stroke di rumah sakit dan mencegah kembalinya pasien untuk mendaftar di rumah sakit lagi.

Penelitian ini dilakukan dengan menawarkan aplikasi PHA melalui smartphone kepada pasien dengan stroke akut yang mendapatkan single care dan tertiary care di comprehensive stroke center  di Mayo Clinic, Jackconville, Florida. Pasien-pasien ini diamati oleh peneliti apakah memiliki kejadian cerebrovascular dan mampu menggunakan device yang diperlukan atau tidak. Semua pasien menerima prosedur standar pelayanan untuk pasien pasca perawatan stroke, aplikasi PHA, dan mengisi survey 30-day Likert scale.

Jason dan timnya meneliti 21 pasien dan 3 diantaranya (14%) telah mengikuti sebelum financial closure. Dua dari 3 pasien memberikan rating yang tinggi terhadap aplikasi yang ada, dan pasien yang ketiga belum mulai memakainya. Untuk pasien-pasien yang tidak dapat menjadi subjek penelitian ini, disebabkan karena 4 pasien tidak memiliki device nya, 3 pasien menolak untuk mengikuti penelitian ini, dan 2 tidak mampu menggunakan device yang disyaratkan. Satu dari 2 pasien yang menggunakan aplikasi PHA mendaftar kembali di rumah sakit untuk melaporkan gejala stroke baru.

Semua pasien yang menggunakan aplikasi PHA ini merasa sangat puas, baik dengan aplikasinya maupun koordinasi pelayanan pasca perawatan di rumah sakit. Penelitian yang dilakukan Jason dan tim peneliti dari berbagai departemen di Mayo Clinic ini memliki rating 14% untuk enrollment dikarenakan  berbagai faktor seperti akses yang terbatas maupun keterbatasan kemampuan dalam menggunakan teknologi yang dibutuhkan.

Walaupun dengan ukuran sampel yang sedikit dan pengehentian pendaan di awal, penelitian Jason dan timnya ini dapat memberikan informasi untuk pengembangan aplikasi mobile health untuk pasien dengan stroke akut di masa depan.

Semoga sedikit rangkuman dari jurnal yang berjudul a feasibility pilot using a mobile personal health assistant (PHA) app to assist stroke patient and caregiver communication after hospital discharge ini dapat memberikan informasi dan inspirasi untuk mengembangkan aplikasi berbasis mobile health yang lebih baik di masa depan, khususnya untuk Indonesia.

Semoga bermanfaat 🙂

Link jurnal:  a feasibility pilot using a mobile personal health assistant (PHA) app to assist stroke patient and caregiver communication after hospital discharge

Review ditulis oleh Yudha E. Saputra, S.Farm, Apt.

Trackback from your site.

Leave a comment