REKAMAN WEBINAR

Pelayanan Terpadu Pasien Nyeri menggunakan Kercerdasan Buatan

Ilustrasi AI for Pain

Cognitive Behavioral Therapy (CBT) adalah salah satu dari metode yang paling efektif untuk mengobati low back pain kronis. Meskipun begitu, hanya setengah dari pasien-pasien di Department of Veterans Affairs (VA) yang memiliki akses kepada terapis CBT yang terlatih, dan kemampuan finansial untuk memperluas jangkauan dari pasien yang dapat mendapatkan pelayanan dari terapis-terapis tersebut dirasa cukup tinggi. Secara umum, CBT adalah proses terapi mingguan yang memakan waktu 10 jam untuk setiap sesinya. Dari terapi ini, beberapa pasien langsung merasakan peningkatan kesehatan dalam beberapa minggu awal terapi, meskipun masih banyak yang perlu mendapatkan perawatan yang lebih intensif.

Penelitian yang dilakukan oleh John D. Piette dari Department of Health Behaviour Education University of Michigan School of Public Health dan beberapa peneliti lainnya mencoba menerapkan prinsip “reinforcement learning”, salah satu ranah dari kecerdasan buatan (artificial intelligence / AI) untuk mengembangkan layanan pengelolaan nyeri CBT terpersonalisasi berbasis bukti yang secara otomatis beradaptasi pada kebutuhan tiap pasien yang berbeda dan unik, atau disingkat dengan AI-CBT.

AI-CBT menggunakan feedback dari pasien-pasien terkait progres mereka dalam pengukuran harian yang berhubungan dengan fungsi-fungsi nyeri melalui penghitung langkah pedometer yang secara otomatis mempersonalisasikan intensitas dan tipe dari dukungan untuk pasien.

Secara spesifik, tujuan dari penelitian yang dilakukan oleh John dan timnya ini adalah untuk (1) mendemonstrasikan bahwa AI-CBT memiliki hasil kesehatan terkait dengan nyeri yang ekuivalen dengan penelponan standar CBT, (2) mendokumentasikan bahwa AI-CBT dapat meningkatkan hasil kesehatan yang lebih dengan menggunakan sumber daya klinisi yang lebih efisien, dan (3) mendemonstrasikan dampak dari intervensi hasil yang terdekat memiliki hubungan dengan respon pengobatan, termasuk keikutsertaan pasien dalam program, akuisisi kemampuan pengelolaan nyeri, dan pasien yang kemungkinan akan dropout.

Secara keseluruhan, penelitian John dan tim penelitiannya ini melibatkan 320 pasien dengan low back pain kronik dari 2 pelayanan kesehatan VA dan melakukan 10 sesi penelponan standar CBT berbanding 10 sesi AI-CBT secara acak. Semua pasien akan memulai fase weekly hour-long telephone counseling, tetapi untuk pasien dalam kelompok AI-CBT, mereka yang memiliki respon pengobatan yang signifikan akan diturunkan levelnya pada pendekatan yang lebih rendah seperti: (1) 15 menit bertemu dengan seorang terapis dan (2) klinisi CBT memberikan feedback melalui panggilan respon suara interaktif (interactive voice response / IVR).

Mesin AI akan mempelajari cara apa yang terbaik untuk mendukung rencana pengobatan pasien secara personal berdasarkan feedback harian melalui IVR pengukur perhitungan langkah pedometer, praktek CBT, dan fungsi pemeriksaan.  Hasil akan diukur pada bulan ke-3 dan ke-6 setelah perekrutan, dan akan meliputi campur tangan dari hal-hal yang terkait dengan nyeri, kepuasan pengobatan, dan keluarnya pasien dari pengobatan.

Hipotesis utama dari John dan tim penelitiannya adalah AI-CBT akan menghasilkan hasil fungsional yang berhubungan dengan nyeri yang setidaknya sama bagusnya dengan pendekatan standar, dan dengan menskala ulang intensitas kontak yang tidak berasosiasi dengan penambahan substansi pada kontrol nyeri, pendekatan AI-CBT akan secara signifikan mengurangi lamanya waktu terapi.

Percobaan yang dilakukan oleh John dan timnya ini masih dalam masa start-up, dimana keterlibatan pasien dimulai pada musim gugur tahun 2016, dan akan diketahui hasilnya pada musim dingin tahun 2019.

Kesimpulan sementara yang dibuat oleh peneliti-peneliti lintas departemen ini menyatakan bahwa penelitian mereka akan mengevaluasi sebuah intervensi yang dapat meningkatkan akses pasien untuk mendapatkan pelayanan manajemen nyeri CBT yang efektif sembari membuat sistem kesehatan memaksimalkan perluasan dari program mereka dengan sumber daya yang terbatas.

Semoga dengan membaca abstrak dari jurnal yang berjudul Patient-Centered Pain Care Using Artificial Intelligence and Mobile Health Tools: Protocol for a Randomized Study Funded by the US Department of Veterans Affairs Health Services Research and Development Program ini, dapat memberikan gambaran kepada pembaca akan inovasi yang dilakukan oleh para peneliti untuk membuat terapi suatu penyakit menjadi lebih efisien dengan pendekatan kesehatan digital.

Meskipun jurnal ini masih dalam tahap penelitian, semoga saja informasi yang sedikit ini dapat menginspirasi pembaca, khususnya praktisi dan semua elemen yang terlibat di bidang kesehatan, untuk lebih mempertimbangkan inovasi berbasis kesehatan digital, khususnya bagi yang mengabdi di Indonesia.

Semoga bermanfaat 🙂

Link jurnal: Patient-Centered Pain Care Using Artificial Intelligence and Mobile Health Tools: Protocol for a Randomized Study Funded by the US Department of Veterans Affairs Health Services Research and Development Program

Review ditulis oleh Yudha E. Saputra, S.Farm, Apt.

Trackback from your site.

Leave a comment