REKAMAN WEBINAR

Para Inovator dan PBB Diskusi Penggunaan Teknologi untuk Mengatasi Berbagai Tantangan Dunia

Ilustrasi High-level SDG Action Event on Innovation and Connectivity

UN.ORG – Pada 17 Mei 2017, telah diadakan pertemuan antara para inovator global dan para pemimpin perusahaan teknologi dari berbagai belahan dunia dengan Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB). Seperti dilansir dari situs UN.org, teknologi telah menciptakan sesuatu yang sebelumnya tidak terpikirkan, terutama untuk mencapai Sustainable Development Goals (SDGs).

Mulai dari drone yang digunakan untuk membawa makanan dan obat-obatan, alat tes darah yang digunakan untuk mendiagnosa Ebola, dan masih banyak lagi.

Amina Mohammed, Deputy Secretary General dari PBB, mengatakan bahwa saat ini, seluruh dunia sedang menutup batas mereka. Meskipun begitu, Nyonya Mohammed mengatakan bahwa kerjasama adalah hal yang penting untuk mencapai SDGs disetiap negara.

“Banyak inovator mengetahui bahwa batasan itu tidak ada. Seperti apa yang kita lakukan di aula-aula ini, ketika kita bernegosiasi dan berbicara mengenai garis merah, garis biru, dan garis hijau.” tambah Nyonya Mohammed.

Nyonya Mohammed juga menggaris bawahi bahwa tidak ada garis merah, biru, maupun hijau ketika kita berjalan di internet, sosial media, serta berkomunikasi lintas batas-batas tersebut. “Hal itulah yang menjadi menarik, karena dengan itu, Anda bisa berbagi pengetahuan, dan dengan itu juga, Anda bisa mengukur, serta menjalin kekerabatan untuk mengurangi resiko lingkungan yang sebelumnya Anda tidak ingin melakukannya.”

Peter Thomson, Presiden dari General Assembly PBB, mengatakan bahwa para peserta serta tamu undangan yang hadir pada acara High-level SDG Action Event on Innovation and Connectivity tersebut, memiliki keyakinan yang sama. “Bahwa inovasi dan konektivitas memiliki peran yang besar dalam mengimplementasikan SDGs.” tambah Tuan Peter.

Tuan Peter juga menambahkan bahwa acara ini begitu penting, karena tujuannya merupakan jantung dari Agenda PBB 2030 untuk Sustainable Development. “Pada ruang lingkup tersebut, bersama dengan Paris Agreement pada Climate Change, adalah resep kita untuk menyediakan tempat yang aman di dunia ini untuk anak-anak dan cucu-cucu kita.”

Tuan Peter menegaskan bahwa para inovator, pemimpin di dunia teknologi, serta anggota-anggota PBB, perlu sedia pada perjanjian-perjanjian tersebut. “Dan kita perlu beraksi untuk mengimplementasikan perjanjian-perjanjian tersebut.”

Pada Action Event yang diadakan untuk menciptakan interaksi antara para inovator dari korporasi global dengan anggota PBB ini, dua keynote speaker, Chairman dari XPrize Foundation dan Singularity University Dr.Peter Diamandis dan CEO Google X Dr. Astro Teller, saling berbagi pengalaman serta memberikan pandangan mereka terhadap masalah global.

Dr. Diamandis berkata bahwa dalam kurun waktu 7 tahun dari sekarang, seluruh penduduk di planet Bumi akan terkoneksi. Dr. Peter menyebut proses ini sebagai dematerialisasi dari hal-hal yang biasanya dimiliki oleh orang-orang, yang sekarang ada secara gratis di telepon genggam kita.

“Anak laki-laki atau anak perempuan dari seorang milyader disini (Manhattan), atau anak laki-laki atau anak perempuan dari orang termiskin di Kenya, memilki akses yang sama ke aplikasi yang tek berbayar, serta mendapatkan ilmu pengetahuan serta informasi yang sama. Ini adalah dunia yang menakjubkan. Apa yang kita lihat hari ini adalah sebagai sebuah dematerialisasi, dimana seluruh ilmu pengetahuan dan informasi ini menjadi lebih murah, serta menjadi sebuah demokrasi, dimana kita memilki milyaran pengguna telepon genggam di Afrika.” ujar Dr. Diamandis.

Dr. Dimandis lalu bertanya kepada para peserta untuk meng-imajinasikan kekuatan dari pikiran baru dari 5 milyar orang yang tidak pernah terkoneksi sebelumnya.

Keynote speaker kedua, Dr. Astro Teller, Chief Execuitive Officer dari Google X, mengatakan bahwa kerjasama antara banyak investor, alhi di bidang teknologi, pmerintah dan komunitas lokal adalah hal yang paling penting.

Dr. Teller juga mengatakan bahwa sebagaian besar dari 7.5 juta orang yang tinggal di planet ini hampir tidak memiliki akses ke internet.

“Ini adalah gambaran (yang ada di) Brazil. Ada banyak orang yang memanjat pohon untuk mendapatkan sinyal, dan mereka sering disebut sebagai kunang-kunang, karena mereka handphone mereka terlihat seperti kunang-kunang di malam hari, yang terbang tinggi menghinggapi pohon demi mendapatkan sinyal. Di Peru, mereka memanjat tampungan air yang menjualng tinggi seperti menara, atau berjalan hingga berkilo-kilo meter demi mendapatkan sinyal.” ujar Dr. Teller

Demi membuat lebih banyak orang dapat online, Google X meluncurkan proyek internet bertenaga balon udara, atau disebut Loon Project, di Amerika Latin untuk dapat membantu UN International Civil Aviation Organization (ICAO).

Akhir kata, Dr. Teller menekankan bahwa, adalah penting untuk semua pihak, mulai dari inovator hingga pihak-piak pemerintah, untuk saling bekerja sama dalam mengentaskan masalah global. “Tidak ada yang dapat mencapai Sustaiable Development Goals sendirian.”

Trackback from your site.

Leave a comment