REKAMAN WEBINAR

Telemedicine untuk Mendukung Pelayanan Kesehatan di Daerah Pedesaan oleh Dr. Åsa Holmner, Ph.D

Sesi foto bersama peserta guest lecture berjudul Telemedicine untuk Mendukung Pelayanan Kesehatan di Daerah Pedesaan dengan Dr.Åsa Holmner, Ph.D

Guest Lecture oleh Dr. Åsa Holmner, PhD dari Centre for Rural Medicine Våsterbotten County Umeå University Swedia pada 27 Maret 2017 pukul 13:00 – 15:00 WIB di Ruang Sidang KPTU telah memberikan gambaran akan perlunya telemedicine di daerah yang jauh dari perkotaan. Dr. Åsa memaparkan persamaan antara Swedia dengan Indonesia, dimana banyak dearah-daerah yang mengalami kesulitan dalam mengakses pelayanan kesehatan

Gambaran Sistem Kesehatan di Swedia

Ahli telemedicine yang bekerja di Department of Biomedical Engineering and Informatics, R&D, Umeå University ini menggambarkan luasnya daerah Swedia, yang sebagian besar secara geografis tiap wilayahnya dipisahkan oleh pegunungan salju. Salah satu daerah bernama Våstterbotten, tutur Dr. Åsa, memiliki wilayah yang luasnya hampir sama dengan Jawa Barat, namun, dari segi populasi, masih lebih banyak wilayah Jawa Barat. Populasi pun dapat diperlihatkan oleh Dr. Åsa melalui peta electricity, dimana persebaran populasi diperlihatkan dalam bentuk kumpulan-kumpulan lampu yang menyala terang di malam hari. Peta tersebut menunjukan bahwa penduduk di wilayah Våstterbotten ini tersebar dengan jarak yang cukup jauh antar rumah yang satu dengan yang lain.

“Sistem kesehatan di Swedia sedikit berbeda, dimana sistem pendanaan untuk pembiayaan anggaran kesehatan didapatkan dari pajak yang nominalnya cukup tinggi, namun di sisi lain, warga kami tidak perlu mendapatkan pelayanan kesehatan terbaik dengan harga yang mahal.” tutur Dr. Åsa.

Halisocentraler, atau pusat kesehatan masyarakat (puskesmas), termasuk salah satu fasilitas pelayanan kesehatan (faskes) yang menerapkan sistem pembiayaan untuk pasien dari pajak tersebut. Daerah Våstterbotten yang memiliki kurang lebih 260.000 jiwa ini, juga menerapkan sistem

Rumah Kita akan menjadi Rumah Sakit di Masa Depan?

Ilustrasi Hospital is Home
 

Kebanyakan orang membayangkan peralatan serta device yang sangat canggih ketika mereka bertanya tentang rumah sakit di masa depan. Namun, bagaimana bila sebagian besar pelayanan kesehatan dapat diberikan di rumah kita dengan menggunakan wearable dan device-device yang berbeda yang berada di kamar mandi maupun tempat tidur kita, dan dapat mengukur apa yang seharus diukur untuk menunjang kesehatan kita?

Bertalan Meskó, MD, Ph.D, mencoba merangkum beberapa kemungkinan pelayanan kesehatan yang dapat diberikan di rumah kita, sehingga rumah kita dapat diasumsikan sebagai rumah sakit di masa depan, dengan melihat device apa saja yang dibutuhkan.

10 hal yang dicontohkan oleh Bertalan Meskó, MD, Ph.D meliputi:

Melihat Pelayanan Kesehatan Hari Ini dari Tahun 2050

Bertalan Mesko, MD, Ph.D dari video Looking Back At Today’s Healthcare from The Future in 2050
 

Apakah yang dapat kita lihat dari pelayanan kesehatan di tahun 2050? Pertanyaan ini mungkin terdengar kurang begitu relevan, karena 2050 masih sangatlah lama, namun, Bertalan Meskó, MD, Ph.D mendapatkan banyak pertanyaan terkait masa depan dari kedokteran dan pelayanan kesehatan, apa yang akan datang, dan seperti apa pelayanan radiologi, genomic, serta sensor kesehatan di masa depan.

Dalam video yang berdurasi 3:13 menit ini, pemilik blog The Medical Futurist ini mencoba membuat prediksi yang tajam, dengan membayangkan bahwa saat ini kita, masyarakat, sedang berada di tahun 2050 dan melihat elemen-elemen yang memainkan peran penting pada pelayanan kesehatan di tahun 2010.

Berikut 16 hal yang bisa kita lihat di tahun 2010 dari tahun 2050 menurut Dr. Bertalan Meskó, MD, Ph.D, antara lain:

Pelajaran dari 2016 untuk 2017: Waktunya untuk Memperhatikan Ancaman Keamanan Data Kesehatan

 
Ilustrasi Health Information Security 2016 to 2017

Laporan dari Protenus menemukan bahwa sebuah organisasi pelayanan kesehatan rata-rata membutuhkan waktu sekitar 607 hari untuk menemukan penerobos yang masuk ke dalam database kesehatan.

Sepanjang 2016, pesan dari beberapa pakar cybersecurity telah dikomuniksikan secara konsisten dan kepentingannya cukup mendesak, dimana para pemimpin di organisasi pelayanan kesehatan perlu untuk memprioritaskan keamanan informasi dan teknologi mereka, karena di Negeri tempat Donald Trump dijadikan presiden ini, para pemimpin tersebut belum melakukan hal yang cukup untuk melindungi data-data pasien.

Berdasarkan laporan terbaru “Breach Barometer” dari Protenus, vendor cybersecurity pelayanan kesehatan yang berbasis di Baltimore, yang berkolaborasi dengan suatu situs penyedia berita penerobosan data, industri pelayanan kesehatan telah tergoda dengan penerobosan yang melibatkan data kesehatan atau data pasien di tahun 2016, dimana insidensi peretasan dan ransomware menjadi pengingat masyarakat akan masih rentannya proteksi terhadap informasi kesehatan (protected health information / PHI).

Berdasarkan analisis Protenus dan situs tersebut, ada 450 insiden penerobosan data yang dilaporkan ke 

Pelatihan untuk Pelatih NusaHealth

 
Foto Peserta Pelatihan untuk Pelatih  NusaHealth yang diselenggarakan di Ruang Multimedia Lantai 3 Gedung Rektorat Universitas Gadjah Mada pada Jumat, 16 Desember 2016 oleh SixCap Singapore

YOGYAKARTA Pelatihan untuk pelatih NusaHealth telah dilaksanakan di Ruang Multimedia Lantai 3 Gedung Rektorat Universitas Gadjah Mada pada Jumat 16 Desember 2016 yang lalu. Pelatihan ini dilaksanakan atas kerja sama Universitas Gadjah Mada (UGM) dengan Six Capital (SixCap) Singapore.

Pelatihan ini dihadiri oleh pihak SixCap Cliff Lee, Managing Director NusaHealth; Lisa Nguyen, Chief Operating Officer NusaHealth; Nadia Goei, Assistant Vice President, Special Projects NusaHealth; dan Anindya Kusuma Putri, Humanitarian Ambassador dari SixCapital sebagai pelatih, serta peserta dari lainnya dari internal UGM seperti Surahyo Sumarsono, B.Sc, M.Eng.Sc dan dr. Lutfan Lazuardi, M.Kes., Ph.D dari pengajar di departemen Sistem Informasi Manajemen Kesehatan (SIMKES), I Nyoman Aji Payuse dari Fakultas Hukum, beberapa asisten peneliti serta mahasiswa-mahasiswi dari jenjang sarjana dan pasca sarjana.

Pelatihan ini dimulai oleh Pak Rahyo, panggilan akrab Surahyo, dengan memberikan sesi pembukaan serta gambaran akan pelatihan yang akan dilakukan selama kurang lebih 3 jam kedepan. Sesi perkenalan pun dimulai dari Cliff, berurutan hingga ke peserta terakhir.

Para peserta diberikan gambaran awal oleh Lisa terkait visi dan misi dari NusaHealth, dimana tingginya kasus penyakit tidak menular seperti